Marc Marquez Buka Sisi Lain Dirinya, Agresif di Sirkuit Tapi Peduli pada Rival
Pelitadigital Sport – Nama Marc Marquez telah lama identik dengan gaya balap agresif yang kerap memicu perdebatan di dunia MotoGP. Pebalap asal Spanyol tersebut dikenal sebagai sosok yang tidak ragu mengambil risiko saat bertarung di lintasan, sebuah karakter yang bahkan diakuinya sendiri sebagai bagian dari mentalitas bertandingnya.
Pada musim MotoGP 2026, Marquez menjadi andalan utama tim Ducati Lenovo. Di tengah performanya yang masih kompetitif, ia membuka sisi lain dari kepribadiannya melalui dokumenter bertajuk All In. Dalam tayangan tersebut, juara dunia delapan kali itu secara jujur menggambarkan perbedaan besar antara dirinya di luar lintasan dan saat berada di tengah persaingan balap.
“Saya melihat diri saya sebagai orang yang biasa-biasa saja. Namun, di trek, saat balapan, saya seorang bajingan,” ungkap Marquez seperti dikutip dari The Guardian.
Reputasi Agresif yang Sudah Terbentuk Sejak Awal
Gaya balap keras Marquez sebenarnya bukan hal baru. Sejak memasuki MotoGP sebagai rookie, ia sudah menunjukkan keberanian menghadapi nama-nama besar seperti Valentino Rossi, Jorge Lorenzo, hingga Dani Pedrosa.
Pendekatan tanpa kompromi tersebut kerap menempatkannya dalam situasi kontroversial. Salah satu insiden terbaru terjadi pada awal musim MotoGP 2026 ketika ia dijatuhi penalti setelah melakukan block pass yang memaksa Pedro Acosta keluar dari jalur ideal dalam sesi Sprint GP Thailand.
Tak hanya itu, pada periode sulitnya bersama Honda beberapa musim lalu, Marquez juga sempat menjadi sorotan karena taktik towing—membuntuti pebalap yang lebih cepat untuk mendapatkan waktu lap optimal saat kualifikasi.
Strategi semacam itu membuat sebagian rivalnya merasa terganggu. Namun di sisi lain, pendekatan tersebut juga mencerminkan mentalitas kompetitif yang membuat Marquez tetap menjadi salah satu pebalap paling disegani di MotoGP.
Sisi Lain Marquez di Luar Lintasan
Di balik citra kerasnya saat balapan, Marquez ternyata memiliki sisi berbeda di kehidupan pribadi. Hal ini diungkapkan oleh Jorge Martin, pebalap Aprilia Racing yang pernah berada dalam masa sulit akibat cedera serius.
Martin mengaku sempat ragu menghubungi Marquez ketika mengalami cedera berat pada bahu kanan serta pergelangan tangan kiri. Namun keputusan itu justru menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya.
“Dia itu seorang monster, saya tahu dia ingin memenangkan semuanya,” kata Martin dalam interviu dengan DAZN.
“Akan tetapi, secara personal, ketika saya memutuskan untuk menelponnya … di titik terendah dalam hidup saya, dia mau membantu saya.”
Bantuan tersebut datang dalam bentuk rekomendasi dokter kepercayaan Marquez, Ignacio Roger de Ona. Melalui penanganan medis tersebut, Martin menjalani operasi cangkok tulang yang akhirnya membantunya kembali ke lintasan.
Titik Balik Karier Jorge Martin
Kesuksesan operasi itu membawa dampak besar bagi Martin. Ia mampu kembali bersaing dan bahkan meraih podium pada GP Brasil musim 2026.
“Saya sangat berterima kasih kepadanya, karena berkat dokternya, saya bisa berada di sini untuk berjuang lagi,” tutur Martin.
“Karier saya hampir berakhir, tetapi sekarang hanya permulaan. Jadi kita lihat nanti apakah kami bisa terus bertahan di jalur ini,” tambahnya.
Solidaritas di Antara Rival
Kisah bantuan kepada Martin bukan satu-satunya contoh sisi kemanusiaan Marquez. Sebelumnya, Franco Morbidelli juga pernah merasakan dukungan dari Marquez bersaudara setelah mengalami kecelakaan hebat dalam sesi latihan privat.
Cerita-cerita tersebut memperlihatkan bahwa di balik reputasi keras yang melekat pada dirinya saat balapan, Marquez tetap menjunjung tinggi solidaritas di antara sesama pebalap.
Kontras antara sikap agresif di lintasan dan empati di luar balapan inilah yang membuat sosok Marc Marquez tetap menjadi figur menarik di MotoGP—seorang petarung tanpa kompromi di sirkuit, namun tetap manusiawi ketika helm telah dilepas.
Sumber : Kompas




