Beranda Bulu Tangkis Malaysia Siapkan Sanksi Berat bagi Atlet Bulu Tangkis yang Tinggalkan Pelatnas, Bisa Didenda Rp2 Miliar
Bulu Tangkis

Malaysia Siapkan Sanksi Berat bagi Atlet Bulu Tangkis yang Tinggalkan Pelatnas, Bisa Didenda Rp2 Miliar

Gambar : BolaSport

Pelitadigital Sport – Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia (Badminton Association of Malaysia/BAM) tengah mempertimbangkan aturan tegas bagi para atlet yang memutuskan keluar dari program pemusatan latihan nasional (pelatnas). Wacana tersebut mencuat setelah salah satu pemain ganda putri Malaysia memilih mundur dari sistem pelatnas tahun ini.

Dalam rancangan aturan yang sedang dibahas, pemain yang meninggalkan pelatnas sebelum masa kontraknya berakhir berpotensi dikenai sanksi cukup berat. Hukuman yang diusulkan berupa kewajiban membayar kompensasi hingga 500 ribu ringgit Malaysia atau sekitar Rp2 miliar, serta kemungkinan larangan tampil di kompetisi internasional selama dua tahun.

Meski terdengar keras, mantan pebulu tangkis nasional Malaysia, Datuk Rashid Sidek, menilai langkah tersebut masih berada dalam batas wajar. Ia menilai federasi memiliki hak untuk melindungi investasi yang telah diberikan kepada para atlet selama berada dalam program pembinaan nasional.

“Itu adil,” kata mantan pemain nomor 1 nasional, yang merupakan bagian dari tim Malaysia yang memenangkan Thomas Cup 1992 dilansir dari The Star.

Perdebatan mengenai aturan ini muncul setelah pemain ganda putri Go Pei Kee memutuskan meninggalkan BAM pada tahun ini. Kepergian Pei Kee membuat tim pelatih harus bergerak cepat menyusun kembali komposisi pasangan menjelang agenda penting tim nasional.

Pelatih ganda putri Malaysia, Rosman Razak, kini harus mencari partner baru bagi Teoh Mei Xing yang dipersiapkan untuk menghadapi Uber Cup 2026. Perubahan mendadak tersebut dinilai cukup memengaruhi persiapan tim karena sektor ganda putri tengah berusaha memperkuat daya saing di level internasional.

Meski menjadi pemicu diskusi internal di BAM, Pei Kee tidak akan terkena sanksi dari kebijakan baru tersebut. Hal ini karena regulasi resmi mengenai hukuman bagi pemain yang keluar dari pelatnas baru akan diformalkan dalam rapat dewan federasi yang dijadwalkan berlangsung pada Mei mendatang.

Sekretaris Jenderal BAM, Datuk Kenny Goh, menjelaskan bahwa klausul terkait konsekuensi bagi pemain yang meninggalkan pelatnas sebenarnya telah tercantum dalam kontrak atlet. Namun, federasi ingin memperjelas mekanisme dan besarannya agar lebih transparan bagi semua pihak.

Ia menegaskan bahwa rancangan kontrak tersebut disusun untuk menjaga keseimbangan hak dan kewajiban antara pemain dan federasi.

Dalam skema yang diusulkan, pemain yang hengkang sebelum kontraknya selesai dapat dikenai dua opsi konsekuensi. Pertama, larangan mengikuti turnamen internasional selama dua tahun. Kedua, pembayaran kompensasi antara 300 ribu hingga 500 ribu ringgit Malaysia, tergantung pada posisi peringkat dunia pemain saat memutuskan keluar dari pelatnas.

BAM menilai aturan ini penting untuk menjaga stabilitas program pembinaan nasional, mengingat federasi menginvestasikan dana besar dalam proses pelatihan, fasilitas, hingga dukungan kompetisi bagi para atlet.

Di sisi lain, kebijakan tersebut juga diharapkan menjadi langkah preventif agar keputusan pemain untuk meninggalkan pelatnas tidak dilakukan secara mendadak dan dapat dipertimbangkan secara matang oleh semua pihak yang terlibat.

Sebelumnya

Aaron Chia/Soh Wooi Yik Hadapi Tantangan Besar Pertahankan Gelar Asia 2026

Selanjutnya

Ketum PBSI Terima Penghargaan Bergengsi dari Badminton Asia di Bali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pelita Digital Sport