Ricuh di Semarang, Aksi Fadly Alberto Picu Ancaman Hukuman Berat dari PSSI
Pelitadigital Sport – Nama Fadly Alberto Hengga kembali menjadi perbincangan publik sepak bola nasional. Namun kali ini, sorotan tak datang dari prestasi gemilang, melainkan insiden panas yang berujung potensi sanksi berat dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20.
Kericuhan terjadi dalam pertandingan antara Bhayangkara FC melawan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026). Laga yang berakhir dengan kekalahan Bhayangkara FC 1-2 itu awalnya berjalan kompetitif, dengan gol Dewa United dicetak Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sementara Bhayangkara membalas melalui Aqilah Lussnah.
Namun, tensi pertandingan rupanya belum mereda meski peluit akhir dibunyikan. Keributan pecah di pinggir lapangan, melibatkan pemain dan ofisial dari kedua tim. Dalam momen tersebut, Fadly Alberto menjadi salah satu figur yang disorot, setelah aksinya melakukan tendangan ke arah pemain lawan terekam dan beredar luas di media sosial.
Dari Inspirasi ke Sorotan Negatif
Fadly sebelumnya dikenal sebagai salah satu talenta muda menjanjikan Indonesia. Namanya mencuat saat memperkuat Timnas Indonesia U-17, bahkan sempat menjadi perhatian publik karena latar belakang kehidupannya yang sederhana. Kisahnya yang inspiratif membuatnya mendapat berbagai dukungan, termasuk bantuan tempat tinggal.
Puncak performanya terlihat saat ajang Piala Dunia U-17 2025, ketika ia mencetak gol penting dalam kemenangan Indonesia atas Honduras. Momen itu menjadi catatan sejarah sebagai kemenangan perdana Indonesia di ajang Piala Dunia lintas kelompok umur.
Kini, bersama Timnas U-20 di bawah arahan Nova Arianto, Fadly diproyeksikan menjadi bagian penting skuad Garuda Muda dalam sejumlah agenda internasional.
Kronologi Versi Klub
Manajer Bhayangkara FC, Yongky Pandu Pamungkas, memberikan penjelasan terkait insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa kericuhan dipicu oleh aksi dari pihak lawan.
“Sebenarnya pemain Dewa juga menendang pemain kita saat itu. Dia berlari dari tengah lapangan dan menendang pemain kita. Dari situlah terjadi perkelahian, banyak pemain, banyak ofisial kita datang untuk melerai. Bahkan pelatih kiper kita itu sebenarnya mau melerai malah kena pukulan dari belakang,” kata Yongki di Semarang, Senin (20/4).
Ia juga menyinggung adanya dugaan pemicu emosional lain dalam kejadian tersebut.
“Kami sangat menyayangkan. Tapi dari pengakuan Beto sendiri dia merasa ada perlakuan rasis terhadap dia. Sehingga dia merasa emosi dan meluapkan emosinya itu ke salah satu pemain yang berada di video viral itu,” kata dia menambahkan.
Di sisi lain, pihak Dewa United turut menyoroti sejumlah nama yang diduga terlibat, termasuk pelatih kiper Bhayangkara FC.
Ancaman Sanksi Berat
Kasus ini kini memasuki tahap penanganan oleh federasi. Anggota Komite Eksekutif PSSI, Kairul Anwar, memastikan bahwa proses disipliner akan berjalan sesuai regulasi yang berlaku.
“Komdis pasti akan merunut pada Kode Disiplin PSSI 2025. Ofisial, perangkat pertandingan, dan pemain akan didalami sebagai bagian dari kejadian ini. Yang jelas, Komdis tidak akan melihat siapa pemain ini, tapi siapa yang melakukan, pasti akan disanksi tegas,” kata Kairul.
Lebih lanjut, ia mengindikasikan potensi hukuman yang tidak ringan bagi pelaku.
“Itu ranah badan yudisial, tapi kalau melihat kejadian itu berpotensi larangan bermain dalam jangka waktu tertentu, bisa 1 tahun lebih. Tapi semua kembali ke Komdis,” kata dia menambahkan.
Momentum yang Terancam
Insiden ini menjadi ironi bagi perjalanan karier Fadly Alberto. Di saat dirinya tengah berada dalam fase penting sebagai pemain muda yang dipersiapkan untuk level internasional, tindakan di luar lapangan justru berpotensi menghambat masa depannya.
Publik kini menanti keputusan resmi Komite Disiplin PSSI, sekaligus berharap kejadian serupa menjadi pelajaran penting bagi pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia—bahwa profesionalisme tak hanya diukur dari performa, tetapi juga sikap di lapangan.







